Kamis, 27 Februari 2014

Habits will serve you II


jasa kurir bandung surabaya ekspedisi
mengulang gerakan beladiri menghasilkan refleks


jasa kurir bandung - Kisah Abdurrahman Bin Auf ini seolah menyampaikan pesan kepada kita bahwa orang yang sudah terbiasa kaya akan susah jadi miskin :D :D :D  
Tahu sebabnya ?

Beliau sudah mengetahui bahkan hafal seluk beluk tatacara perdagangan, mulai dari sikap mental pengusaha, siapa supplier, kondisi pasar, masalah differensiasi, network, dan teknik berdagang yang lain, sehingga dalam waktu singkat telah menjadi orang kaya di Madinah. Sekali lagi beliau sudah hafal kunci-kuncinya sehingga dengan mudah dapat menguasai perdagangan.

Bukan kondisi awal yang penting tetapi habits atau kebiasaan apa yang kita lakukan. Abdurrahman Bin Auf telah melatih habits berdagang jauh sebelum hijrah ke Madinah. Kemampuan menangkap peluang bisnis sangat luar biasa. Simaklah perkataannya "Setiap kali aku memungut sebuah batu, maka aku berharap bisa menemukan emas atau perak". 

Saat ini, banyak orang yang mementingkan kondisi awal dibandingkan habits yang dilakukan. Kita mengeluh bahwa kita adalah 'korban sistem', terlahir yatim piatu, tidak punya modal usaha, tidak punya keahlian, dan yang paling memprihatinkan berharap tawaran 'separuh harta orang yang paling kaya sekaligus salah seorang istrinya yang tercantik' (wkwkwkwk...).

Perlu disadari bahwa habitslah yang membuat selalu gagal. Yaitu habits yang memposisikan diri sebagai korban, selalu mengeluh dan bermental pengemis. 

'Tawaran - tawaran yang menggiurkan' akan datang kepada orang - orang yang bermental sebagaimana Abdurrahman Bin Auf (dalam berbagai bidang tentunya).
Bagaimana mungkin hanya menginginkan 'tawaran' seperti yang pernah dialami Abdurrahman Bin Auf namun tidak ingin melakukan habits atau kebiasaan seperti Abdurrahman Bin Auf ?

Tapi Saya Takut Kalau Gagal

Sering kita jumpai orang yang mundur duluan sebelum melakukan sesuatu, atau sebelum memulai sebuah habit. Pertanyaannya 'apakah Abdurrahman Bin Auf tidak pernah gagal dalam berdagang ?'. 
Memang saya belum menemukan riwayat yang menceritakan kegagalan beliau dalam berdagang. Tetapi saya kira suatu keniscayaan dari proses yang begitu panjang dan begitu lama dalam dunia perdagangan, ada saja kegagalan yang menimpanya, terutama saat awal-awal berdagang.

Masih ingat dengan thomas alfa edison ? penemu lampu pijar. Banyak versi yang menyebutkan berapa kali Thomas Alva Edison gagal dalam percobaan menciptakan lampu pertama. Ada yang menyebutkan dia gagal sampai 2.000 kali, ada juga yang bilang dia gagal 10.000 kali. Tidak peduli berapa kali kegagalannya, pada intinya dia mengalami banyak kegagalan. 

Suatu waktu, setelah lama melakukan penelitian, tempat penelitiannya terbakar sehingga perangkat dan hasil penelitiannya  habis terbakar.  Sampai istrinya sendiri bicara kepadanya "Sudahlah Mas (Thomas :D), mimpi jangan tinggi-tinggi....". Ternyata dia tidak menyerah dan memulai lagi percobaannya. "Suatu saat, saya akan buat dunia seterang kebakaran ini" ujarnya bersemangat.

Sampai akhirnya dia pun berhasil menemukan lampu pijar yang dapat dinikmati sampai saat ini.

Ketika ditanya, bagaimana dia bisa melakukan sekian banyak percobaan, melalui sekian banyak kegagalan, dan tidak putus asa ? Mas Edison menjawab, "Saya tidak pernah gagal, saya hanya belum berhasil menemukan cara yang tepat untuk menciptakan lampu. Semua itu ada prosesnya, bagian dari perjuangan".

Dapatkah kita memandang sebuah kegagalan seperti yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison ? 
Dapatkah kita konsisten memulai dan melakukan kebiasaan-kebiasaan kita seperti Abdurrahman Bin Auf ?
Sebuah saran : "Mulailah habits atau kebiasaan yang membentuk diri Anda sehingga lebih baik dan perbaikilah cara pandang atau pola pikir Anda mengenai kegagalan ".

(admin jasakurirbandung - dari berbagai sumber ; inspirasi & buku - how to master u'r habits - unlimited wealth)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar